| Sebuah cerita pendek dari impian bag 2 |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | ||||||
| Minggu, 12 April 2009 01:05 | ||||||
|
“Sebuah cerita pendek dari impian” (Bagian kedua)
Hari ini tak ada yang istimewa bagiku. Seperti biasanya, Aldi masih saja terus mendekatiku. Berusaha untuk mendapat cintaku ini. Sebenarnya tak pernah ada rasa dihatiku untuknya, cuma sayang juga bila disia-siakan, cowok seganteng dan sekaya dia. “Hahaha” tawa serakahku dalam hati. Aku hanya berfikir realis sajakan, seumpama memang nantinya aku jadi sama Aldi, tidak rugi juga untukku. Dia ganteng, keren dan kaya lagi. Hidup di zaman modern sekarang harus memiliki banya harta untuk bisa bertahan. Meskipun begitu, aku masih percaya kalau di dunia ini masih ada cinta sejati dan cintaku nanti akan datang dengan cara yang istimewa. Aku sekarang tinggal dengan kedua orang tuaku dan seorang kakak wanita yang cantik. Dia seorang wanita karir di sebuah perusahaan multi dimensi. Sekarang dia menjadi sibuk sekali karena sering menggantikan pimpinan perusahaan yang suka sekali semaunya, jadi tanggung jawab dilimpahkan ke kakakku. Dalam hatiku aku selalu ingin seperti kakakku yang selalu dibanggakan oleh ayahku yang juga seorang bisnisman. Tinggal satu tahun lagi, aku akan lulus dari studi sarjanaku di Universitas Indonesia. Aku mengambil program studi Manajemen karena aku ingin menajdi wanita karir seperti kakakku dan membuktikan ke ayahku kalau aku juga bisa seperti kak Monika. “Dek..Tita” ku dengar suara kakakku yang memanggil. “bentar…Kak” teriakku dari dalam kamar. Lalu aku membukakan pintu untuknya. Kulihat dia masih memakai seragam kerjanya. Meskipun terlihat lelah, tapi dia masih saja terlihat cantik. “masuk kak..” suruhku! “ada apa ya?” tanyaku memulai ngobrol dengan kak Monika. “Kamu satu bulan ini lagi sibuk gak?” tanya kak Monik. “em..kayaknya gak terlalu” kataku. “emang kenapa?” tanyaku yang penasaran. Kak Monika memberi tahuku kalau perusahaan tempatnya bekerja sedang ada proyek. Kak Monika mengajakku untuk ikut proyek itu. Jam kerjanya juga disesuaikan dengan jadwal kuliahku. “kamu boleh mengajak dua orang teman lagi” kata Kak Monik. Setelah sedikit berfikir, aku menerima permintaan kak Monik. Besok aku disuruh datang ke kantornya untuk menandatangani kontrak kerja. Sebenarnya aku sendiri kurang begitu tahu tentang proyek itu. Tapi, kata Kak Monik, proyek ini bisa menambah pengalaman kerjaku. Esok harinya, habis kuliah aku dan dua temanku, Cia sama Ira datang ke kantor kak Monik. Sampai disana aku masih harus menunggu karena kak Monik baru rapat dengan dewan direksi. Sekitar jam 11 siang, kak Monik baru menemuiku. Ia bersama seorang pria. Lalu kak Monik mengenalkanku dengan pria itu. Ternyata dia adalah manajer pemasaran. Nama pria itu Rido Pangestu. “Monik, jadi mereka yang akan ikut proyek kita?” tanya Rido. “Iya..” jawab kak Monik. “Kalian sudah tahu tentang proyek ini?” “Belum” jawabku kompak dengan kedua temanku. Pak Rido memberitahu tentang proyek tersebut. Saat aku mendengar penjelasan dari dia, aku hanya bisa tertegun, syok mendengar proyek tersebut. Kami akan menjadi sebuah tim untuk membuat proposal bisnis. Perusahaan ini akan membangun sebuah mall baru yang ada di daerah Jakarta Barat. Kata pak Rido, kami harus merencanakan mall tersebut seperti apa konsep bisnisnya. Kami diberi waktu satu bulan untuk menyelesaikan. Seumpama proyek itu gagal, kami tidak akan menanggung resikonya hanya saja bayaran yang akan kami terima hanya sepuluh persen dari total pembayaran yang tercantum di kontrak. Setelah aku dan kedua temanku berdiskusi, akhirnya kami setuju untuk menerima proyek tersebut. Artikel Lainnya
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |




